Penomena corona virus (COVID-19) yang pertama kali dilaporkan dari Wuhan, Tiongkok telah menyebar ke berbagai negara lain di dunia termasuk Indonesia. Kasus terkonfirmasi COVID-19 telah membumbung hingga jumlah yang jauh melebihi SARS pada tahun 2003. Menyadari kemampuan penularannya dari “manusia-ke-manusia”, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai Keadaan Darurat Kesehatan Publik Tingkat Internasional pada 31 Januari 2020.

          Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terdampak penyebaran virus ini. Berdasarkan press release yang dikeluarkan pemerintah Provinsi NTB per tanggal 19 April 2020 tentang kondisi penyebaran virus Covid-19 di wilayah NTB tercatat jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 269 orang dengan perincian 168 orang (63%) PDP masih dalam pengawasan, 101 orang (37%) PDP selesai pengawasan/sembuh, dan 15 orang PDP meninggal. Untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya 4.385 orang, terdiri dari 925 orang (21%) masih dalam pemantauan dan 3.460 orang (79%) selesai pemantauan. Jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG) yaitu orang yang kontak dengan pasien positif Covid-19 namun tanpa gejala sebanyak 1.204 orang, terdiri dari 770 orang (64%) masih dalam pemantauan dan 434 orang (36%) selesai pemantauan. Sedangkan Pelaku Perjalanan Tanpa Gejala (PPTG) yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 sebanyak 41.505 orang, yang masih menjalani karantina sebanyak 14.577 orang (35%), dan yang selesai menjalani masa karantina 14 hari sebanyak 26.928 orang (65%).

        Fakta-fakta ini cukup untuk menggambarkan tingkat kegawatan dan kerumitan wabah ini. Mengingat fakta bahwa belum ada obat efektif yang tersedia untuk penyakit yang disebabkan virus menular ini, langkah-langkah pencegahan termasuk mengendalikan sumber penularan, deteksi dini pasien, memotong transmisi, dan melindungi populasi yang rentan adalah hal-hal yang terpenting. Meskipun lembaga-lembaga dan pekerja medis adalah kekuatan utama untuk melawan penyakit tersebut, partisipasi masyarakat juga sangat diperlukan untuk pendendalian epidemi secara cepat.

      Bedasarkan hal-hal tersebut di atas, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Samawa (FEM UNSA) melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 yang dikemas lewat kegiatan pengabdian kepada masyarakat (ABDIMAS) yang bertajuk “FEM UNSA MELAWAN COVID-19”. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk partisipasi FEM UNSA dalam mendukung dan membantu pemerintah melawan penyebaran virus Covid-19 khususnya di wilayah Sumbawa. Dekan FEM UNSA ibu Elly Karmeli, S.E., M.E. selaku penanggung jawab kegiatan menyebutkan “Kegiatan ini terlaksana karena melihat kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya menjalankan himbauan pemerintah untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) terutama masker. Oleh karena itu civitas akademika FEM UNSA langsung turun ke jalan untuk membagikan masker sekaligus memberikan himbauan kepada masyarakat dalam rangka mencegah penularan Covid-19, dan ini juga diharapkan menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat”. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pembagian masker gratis kepada para pengendara roda 4 maupun roda 2 yang melintas sekitar Lapangan Pahlawan Kabupaten Sumbawa pada hari Senin, 20 April 2020 dengan melibatkan berberapa unsur civitas akademika FEM UNSA baik dosen maupun staf dari 3 (tiga) program studi yaitu Program Studi Ekonomi Pembangunan, Program Studi Manajemen, dan Program Studi Keuangan dan Perbankan.

     Kegiatan ini mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat tertutama para pengendara dan masyarakat sekitar. Diharapkan kegiatan ini akan menggugah dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut serta secara bersama-sama melawan virus corona sehingga permasalahan ini segera berakhir.

 

(Dokumentasi Kegiatan pemberian masker ke pengendara)